Sulitnya Mengendalikan Ratusan Juta Sperma Agar Tak Masuk ke 1 Sel Telur


img 
Jakarta, Selama ini alat kontrasepsi yang diberikan pada pria hanya ada dua yaitu kondom dan vasektomi namun keduanya memiliki kelemahan.

Meskipun kondom memiliki tingkat kesuksesan sebesar 98 persen, terutama jika digunakan dengan benar, namun dalam realitanya berkat kesalahan manusia juga, kondom hanya bisa mencegah kehamilan pada 85 persen kasus saja dan ini merupakan risiko yang tak bisa diterima oleh banyak pasangan.

Selain itu, vasektomi yang sebenarnya dirancang menjadi alat kontrasepsi permanen masih bisa tak sepenuhnya efektif dan membutuhkan prosedur operasi yang riskan.

"Jauh lebih mudah untuk mengendalikan satu sel telur daripada 100 juta sperma yang diproduksi seorang pria setiap harinya. Potensi kesalahannya juga sangat besar karena jika satu sperma saja lolos maka pengobatannya pun gagal. Jadi sederhananya, hal ini jauh lebih sulit," kata Profesor Peter Schlegel, kepala departemen urologi di Cornell University, New York.

Meski begitu hal ini tak menyurutkan tekad para ilmuwan untuk menemukan berbagai metode kontrasepsi terbaik untuk mengontrol kelahiran, terutama bagi pria diantaranya seperti dilansir dari dailymail, Rabu (11/7/2012) berikut ini.

1. Suntikan Testosteron

Kontrasepsi berbentuk suntikan ini diberikan pada pria sekali dalam sebulan dan sama efektifnya dengan kondom atau pil pada wanita.

Suntikan testoteron yang diberikan di pantat ini bekerja dengan cara mengatur dua senyawa kimia dalam otak yaitu hormon perangsang folikel (follicle-stimulating hormon atau FSH) dan hormon pelutein (luteinizing hormon atau LH) yang menghambat produksi sperma untuk sementara waktu.

Percobaan selama dua tahun di China yang melibatkan 1.000 pria mengungkapkan bahwa suntikan ini 95 persen efektif untuk mencegah kehamilan. Namun enam bulan setelah suntikan dihentikan, jumlah produksi sperma pria pun akan kembali pada kondisi normal.

Meski hasilnya tampak menjanjikan, sepertiga partisipan mengaku tak mau disuntik lagi karena munculnya efek samping seperti mood yang berubah-ubah, gairah seksual yang rendah dan jerawat.

2. Pil Pelumpuh

Peneliti Inggris tengah mengembangkan sebuah pil untuk pria yang bertujuan untuk mencegah keluarnya sperma saat ejakulasi.

Pil tersebut menggunakan bahan-bahan yang banyak ditemukan di dalam pengobatan untuk mengatasi tekanan darah dan anti-psikotik pada tahun 60-an namun memberi efek samping 'ejakulasi kering'.

Nantinya pil ini akan melumpuhkan otot-otot tertentu dalam sistem reproduksi pria dan menghambat pelepasan sperma untuk sementara waktu namun tidak memberi efek yang buruk terhadap libido, performa atau sensasi seksual. Sederhananya, pria yang meminum pil ini masih bisa mencapai orgasme tapi tidak menghasilkan cairan apapun.

Sejumlah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Kings College Hospital, London menunjukkan bahwa pil ini bisa bekerja dalam waktu tiga jam dan tahan hingga dua hari sehingga hanya bisa digunakan ketika dibutuhkan saat itu juga.

Profesor John Guillebaud, profesor emeritus perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi di University College London mengatakan, "Metode ini berpotensi menjadi pil pra-koital dan diperkirakan bisa bekerja dalam dua hingga empat jam setelah ditelan."

"Pil ini juga membantu meyakinkan pasangan yang merasa cemas dengan kehamilan sehingga sang istri bisa mengawasi suaminya untuk mengonsumsi pil ini".

3. Paparan Ultrasound pada Testikel

Paparan ultrasound selama 15 menit pada testis memberi kontrasepsi pada pria selama enam bulan.

Ultrasound ini akan membunuh sel-sel reproduksi yang menghasilkan sperma lewat testis dan mengurangi jumlah sperma hingga mencapai angka nol. Hasil terbaiknya bisa dilihat setelah menjalani dua sesi ultrasound selama 15 menit dengan jarak dua hari.

Peneliti dari University of North Carolina pun telah menunjukkan efektivitas metode ini pada tikus dan monyet.

"Namun studi yang lebih jauh masih dibutuhkan untuk menentukan seberapa lama efek kontrasepsi itu bertahan dan apakah metode ini aman bila digunakan berkali-kali," ujar Dr. James Tsuruta dari University of North Carolina.

Beruntung metode ini hanya menargetkan testis saja sehingga takkan menimbulkan efek samping pada hormon-hormon lainnya.

4. Pil Pria

Para ilmuwan tengah mengembangkan pil yang sama seperti pil kontrasepsi yang dikonsumsi wanita dan tanpa efek samping.

Obat yang sementara disebut BMS 189453 ini bekerja dengan merusak kemampuan tubuh untuk memanfaatkan vitamin A dalam proses produksi sperma untuk sementara waktu.

Setelah meminum pil ini, butuh waktu sekitar dua hingga empat minggu agar produksi spermanya benar-benar berhenti namun para pria akan mulai menghasilkan sperma lagi sesegera setelah berhenti meminum pil ini.

Meskipun vitamin A juga krusial bagi penglihatan, peneliti dari Columbia University, New York yang mengembangkan pil ini mengaku efeknya takkan mempengaruhi penglihatan. Ujicoba yang dilakukan pada tikus menunjukkan bahwa pil ini efektif, bahkan tanpa efek samping apapun.

"Kelebihan lainnya adalah pil ini dapat dikonsumsi secara oral, mungkin cukup satu kali dalam sehari jika pria menghindari suntikan," jelas peneliti Dr. Wendy Chung.

Peneliti juga memprediksi 55 persen pria akan bersedia mengonsumsi pil ini. Namun sebuah studi di Inggris yang dipublikasikan pada 2010 mengemukakan bahwa wanita tak percaya pria bisa minum pil kontrasepsi semacam ini setiap hari.

5. Vasektomi Genetik


Ilmuwan dari Edinburgh University telah menemukan sebuah gen yang disebut Katnal1. Gen ini ternyata memiliki peranan yang sangat penting bagi produksi sperma yang sehat.

'Vasektomi genetik' ini bisa berbentuk suntikan gen yang akan membuat seorang pria mandul secara permanen atau obat yang mampu memblokir kinerja gen tersebut sebagai kontrasepsi sementara.

"Jika kita bisa menemukan sebuah cara untuk menargetkan gen yang ada di dalam testis ini, kita bisa mengembangkan sebuah kontrasepsi non-hormonal untuk pria," kata Dr. Lee Smith dari Centre for Reproductive Health, University of Edinburgh.

Masalahnya, efek obat semacam ini bisa saja berubah karena gen Katnal1 mempengaruhi sel-sel sperma hanya pada tahapan awal perkembangannya sehingga takkan menghambat kemampuan testis untuk menghasilkan sperma secara menyeluruh.

6. Gel Sperma

Suntikan gel diprediksi dapat menghambat dan menonaktifkan sperma serta mengendalikan kelahiran selama 10 tahun.

Gel ini disuntikkan ke dalam sebuah tabung di dalam skrotum yang disebut vas deferens sebagai jalan keluar bagi sperma saat ejakulasi. 

Cara kerja gel ini adalah dengan menutup dinding-dinding vas deferens sehingga lebih sedikit sperma yang bisa dilepaskan saat ejakulasi dan senyawa-senyawa kimia di dalam gel memecah membran sel-sel sperma sehingga tak lagi mampu membuahi sel telur wanita.

Suntikan gel yang dikenal dengan RISUG (Reversible Inhibition of Sperm Under Guidance) ini hanya butuh waktu 15 menit dan telah diujicobakan di India. Hasilnya tak ada kehamilan yang terjadi antara satu hingga tiga tahun setelah partisipan disuntik sebanyak satu kali. Bahkan efektivitas gel ini bisa didapatkan secara instan setelah disuntikkan.

Efek sampingnya antara lain pembengkakan testis dan ada kekhawatiran terkait kadar toksisitas produk.

Produk serupa bernama Vaselgel juga tengah dikembangkan di AS.

Jika dalam penjelasan di atas ada yang sobat kurang mengerti, silahkan tulis di kolom komentar. Semoga bermanfaat terima kasih.


jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© BBC.WEB.ID Powered by Blogger